
Rejeki Pemulung di Tempat Wisata
January 24, 2010
Liburan tiba. Waktunya untuk jalan-jalan menuju tempat wisata. Saat liburan kenaikan Sekolah Dasar (SD) beberapa tahun lalu, keluarga besar SD saya mengunjungi tempat wisata ”Bedugul”, setengah jam perjalanan menuju Bedugul sangat melelahkan. Sesampainya.. betapa tidak enaknya perasaan saya melalui jalan seputaran Bedugul itu, sampah plastik, tissue-tissue dan muntahan pun berserakan di jalanan. Bukankah sudah disediakan tempat sampah disetiap sudut jalan disana. Kami berhasil melewati api neraka dan masuk menuju taman raya Bedugul. Haah! Sejuk.
Saat menyantap makan siang, dengan lahap kami menghabiskan bungkusan berbentuk kotak putih lumayan besar. Kira-kira 30×20 cm ukurannya. Saya toleh ke arah kanan saya, apa yang anak-anak itu lakukan? Setelah menghabiskan makanan itu ia hanya meletakkan sisa-sisa makanan (sampah) di sebelah ia duduk. Bisa dibayangkan, jika seluruh siswa melakukan hal tersebut atau katakanlah sebagian dari mereka, apa jadinya kebun raya ini bagaikan TPS (Tempat Pembuangan Sampah).
Tempat wisata lain yang menjadi rejeki para pemulung, ialah Puputan. contoh kecil dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Bali. Orang-orang yang mengunjungi tempat ini terdiri atas semua golongan. Orang tua yang hanya ingin sekedar jalan-jalan atau sedikit olah raga. Bahkan anak muda yang menggunakan Puputan sebagai media ketemuan mereka. Melihat suasana yang banyak dikunjungi orang-orang ini, pedagang pun tertarik untuk beroperasi disini (selama lolos dari kejaran Satpol PP) dan tidak jarang makanan yang diperjualkan adalah sumber Sampah. Misalnya minuman kaleng, makanan ringan, kue basah, makanan fast food, dll.
Mengapa kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya atau menggeletakkannya saja ditempat dimana ia berada menjadi kebiasaan yang tidak dapat dihilangkan oleh masyarakat Indonesia, khususnya kota-kota yang menjadi tempat wisata lokal.
